Tuesday, July 19, 2011
Si Benga Teman Se-cabin-ku Yang Paling Jorok
Janganlah kamu tahu siapa aku.
Itu tidaklah penting sama sekali. Yang perlu kamu tahu adalah aku seorang pelaut yang sangat merindukan kekasihnya. Seorang pelaut yang bekerja di perusahaan pelayaran asing yang sedang berusaha mencari celah agar bisa dipromosi menjadi assistant steward di Dining Room. Seorang pelaut yang baru bergabung dengan perusahaan Amerika yang memiliki kapal berbenderakan merah, putih dan biru. Kapal yang terdaftar di kerajaan Belanda dan mengangkut orang untuk bersenang-senang.
Baiklah untuk kamu yang sedang mendengarkan. Sebelum aku menceritakan bagaimana aku ada di perairan Alaska saat ini dan terombang ambing oleh gelombang ombak yang cukup besar, ada baiknya kita mulai dimana aku mencoba mendaftarkan diri menjadi pelaut di salah satu agen kapal yang sangat besar di Jalan Sudirman Jakarta. Waktu itu aku menintipkan surat lamaranku ke abangku yang sudah menjadi pelaut terlebih dahulu dan kebetulan dia waktu itu sedang ada urusan di kantor agen. Maka dengan rekomendasi dari abangku surat lamaranku terlampirkan. Berselang sehari aku sudah dapat telpon dari agen bahwa aku harus ke Jakarta untuk melakukan interview.
Singkat cerita interviewku lolos dan aku harus melakukan interview kedua di Cikarang, di salah satu sekolah yang didirikan oleh perusahan Amerika itu agar para pekerja Indonesia yang akan bekerja sebagai pelaut di kapal-kapal perusahaan itu siap secara skill dan mental. Dua hari kemudian aku datang ke Cikarang mencoba keberuntungan selanjutnya. Di sekolah aku mendapatkan sekali interview, sekali test skill dan sekali Marlin test.
Entah mengapa aku gagal diinterview dan harus mengulang lagi tiga bulan mendatang. Dan aku datang tiga bulan kemudian dan dinyatakan aku keterima sebagai crew di kapal tersebut.
Untuk kamu yang sedang mendengarkan.
Setelah lulus dari interview aku harus melakukan medical check up di Puri Medika, Tanjung Priuk dan kemudian aku harus menunggu pendidikan di Cikarang selama 8 minggu. Prosesnya menghabiskan waktu sekitar 8 bulan dan setelah pendidikan aku harus menunggu untuk membuat Visa Amerika selama 5 bulan. Aku harus menunggu setahun lebih hanya untuk bekerja di perusahaan ini dan hanya untuk mengumpulkan dollar-dollar Amerika yang semakin lama semakin turun harganya.
Terkesan ribet sekali dan memang iya RIBET.
Ah aku terlalu jauh flash back.
Oke hari ini adalah hari Kamis tanggal 14 Juli 2011. Di salah satu kapal di cabin 061 aku menulis sambil menahan rasa bau badan dari teman se-cabinku. Ufhh… Bau banget ini. Aku pura-pura tidak merasakannya karena aku tidak mau membuatnya merasa buruk. Aku mementingkan perasaannya walau aku tersiksa. Aku memang teman yang baik bukan?
Sudah hampir dua bulan aku sekamar dengannya. Tapi bau badannya semakin lama semakin menjadi. Aku tidak berani berbicara kepadanya untuk masalah ini. Sering kali bila aku sehabis kerja masuk cabin, maka pintu langsung aku buka lebar-lebar agar udara segar masuk kedalam cabin dan udara bau tubuh keluar. Bila udara di dalam cabin masih bau, maka aku akan membuat pintu seakan-akan kipas besar dan mulai mengipas-ngipas cabin. Mengerti kan apa maksudku? Ah… aku pun bingung bagaimana menjelaskannya.
Selain bau badannya yang menyiksa. Dia pun adalah seorang perokok berat. Rokoknya adalah Marlboro merah dan kadang-kadang Marlboro putih buatan Amerika. Kadang-kdang otaknya jarang dipakai. Sensitiifitas pengertiaanya kepadaku sebagai sesama penghuni cabin 061 tidak dihiraukan. Dia merokok sesuka hati. Aku semakin tersiksa karena aku bukanlah seorang perokok. I used to smoke tapi untuk saat ini rokok adalah salah satu siksaanku di cabin.
Puntung rokok bertebaran di dalam kamar mandi membuat penghuni cabin tetangga juga complaint. Argh… belum sampai disitu. Si Benga juga kadang-adang menggantungkan handuk di atas kasur membuat kasurku menjadi bau. Dan yang lebih parah si Benga juga menggantungkan celana dalam yang sudah dia pakai di gantungan pintu. Cih… si Benga memang manusia paling jorok yang pernah aku kenal.
Ok. Aku saat ini sedang mendengarkan Mike – Semua Untuk Cinta. Lagu slow yang akan mengantarkanku tidur sebentar lagi. Percaya atau tidak, alarm si Benga akan nyala satu jam setengah sebelum dia berangkat kerja, dan alarm yang keluar dari telpon genggang Nokia butut itu suaranya sangat nyaring. Aku sering terbangun gara-gara alarm si Benga nyala, tapi pas aku lihat si Benga masih saja tidur pulas. Na'udzubillah. Padahal itu Nokia tepat ada di samping telinga si Benga. Siang nya kadang-kadang si Benga bakalan nanya. Pertanyaan nya gini; "Tadi pagi alarm gua nyala gak ya sob?". Whattt???? Itu alarm nyala puluhan kali sampai-sampai aku ingin ngebantingnya. Hemhhh…. (sambil geleng-geleng kepala)
Sempet juga beberapa kali pas aku lagi tidur ada telpon berdering. Aku angkat itu telpon dan ternyata Lido Manager yang nelpon. "Where is si Benga?" Oh Tuhan si Benga terlambat datang kerja sampe-sampe harus ditelpon sama Manager Portugal botak yang nyebelin sama kaya si Benga. Tapi nanti saja aku ceritakan tingkah laku manager botak itu.
Untuk kamu yang sedang mendengarkan.
Aku sepertinya harus istirahat. Punggungku sudah harus aku luruskan. Tadi di Dining Room aku kelelahan melayani tamu-tamu kampungan yang duduk di table 311.
__________________________________________________________________
Dari cabin 061 di salah satu kapal perusahaan Amerika.
At sea sebelum Anchorage.
0.27 hours on Friday 15th, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment