Emhh…
Aku tidak peduli apa ada yang mendengarkan ceritaku ini atau tidak. Saat ini ms Amsterdam sedang di charter sama penumpang Christian. Mereka semua berjumlah 1400an. Dan hasilnya tadi siang di Lido restaurant seperti pasar. Penuh sesak dan terus menerus ramai. Aku bertugas sebagai clear up/ set up mid ship area di Lido. Misi dari tugasku adalah menyediakan tempat duduk dan meja makan untuk tamu-tamu yang datang dengan cara cepat-cepat merapihkan meja-meja yang sudah ditinggalkan oleh tamu. Atau segera me-remove piring-piring kotor beserta gelas-gelas yang sudah tidak terpakai oleh tamu walau mereka masih duduk.
Dengan cara me-remove piring-piring itu maka ketika tamu sudah selesai, kotoran yang ditinggal oleh mereka tidak menumpuk. Nah dalam keadaan sangat ramai maka kita dihalalkan me-remove piring-piring dengan cara membawa langsung tray dan merapihkannya di meja. Dengan cara itu maka meja dengan cepat akan bersih. Setelah tidak ada kotoran kemudian kita harus mengelap meja agar bersih dari sisa-sisa makanan.
Setelah bersih maka meja harus di set-up dengan rolled cutleries yang berisi dessert fork dan dessert knife yang dibungkus oleh napkin. Rolled cutleries ini diambil di store Lido yang disediakan oleh orang-orang yang bertugas sebagai roll up.
Lido Restaurant terletak di deck 8 antara aft elevator dan mid ship elevator. Ok. Kamu mungkin belum familiar dengan istilah-istilah kapal. Kapal secara umum dibagi mejadi tiga bagian. Bagian depan disebut forward, bagian tengah disebut mid ship dan bagian belakang kapal disebut aft. Kemudian bagian kanan kapal disebut starboard side dan bagian kiri kapal disebut port side.
Di gambar kapal Deck dibagi menjadi 11 lantai;
- Deck A = A Deck,
- Deck 1 = Dolphin Deck,
- Deck 2 = Main Deck,
- Deck 3 = Lower Promenade Deck,
- Deck 4 = Promenade Deck
- Deck 5 = Upper Promenade Deck,
- Deck 6 = Verandah Deck,
- Deck 7 = Navigation Deck,
- Deck 8 = Lido Deck,
- Deck 9 = Sport Deck,
- Deck 10 = Sky Deck.
A Deck terletak paling bawah diantara deck-deck yang lain yang bisa diakses oleh tamu. Di deck ini hanya ada Tender yaitu ketika kapal melakukan tender maka deck ini akan menjadi akses dimana tamu akan keluar kapal menggunakan boat yang sudah disediakan. Tender terjadi ketika kapal tidak dapat merapat ke pear disebabkan kedalaman laut tidak memungkinkan kapal bersandar disana. Akhirnya satu akses yang bisa digunakan agar tamu-tamu bisa sampai ke pear adalah menggunakan boat-boat. Tender terletak di dekat forward elevator.
Selain ada tender. Di A Deck juga terdapat Mess Room atau tempat makan untuk karyawan. Di Mess Room ada Crew Bar, Game Area, Smoking Room dan Internet Café. Mess Room kitchen juga nyambung sama tempat makan PO (Officer) walau kebanyakan staff dan officer sering makan di Lido. Mess Room juga setiap hari jum'at siang sering digunakan untuk Tempat Shalat Jum'at bagi karyawan-karyawan Indonesia yang beragama muslim. Di A Deck juga terdapat HRM Office dan Crew Office.
Dolphin Deck terletak satu lantai diatas A Deck. Di Dolphin Deck terdapat Medical Center yang terletak di forward dan sisanya adalah stateroom 1800 sampai stateroom 1964. Medical Center buka untuk tamu dan juga untuk karyawan. Ada dokter yang jaga dan tetunya para perawat. Untuk beberapa jenis penyakit maka siapapun yang menderitanya harus dirawat inap di Infirmary ini. Salah satu temanku pernah diwarat selama satu minggu penuh tanpa kerja karena cacar air. Perawatan ini sekaligus isolasi agar penyakit yang dia derita tidak menular.
Main Deck atau Deck 2 adalah deck yang berisi stateroom saja. Stateroom 2500 sampai Stateroom 2715.
Lower Promenade Deck hampir sama seperti main deck yang berisi Stateroom saja. Tetapi di deck ini ada space yang memungkinkan orang untuk berjalan-jalan dan melihat pemandangan. Di area itu juga terdapat Liferaft Station dan Lifeboat Station atau Mustering Area yang tiap bulan biasanya diadakan abandon ship training. Abandon ship
training ini diawali dari tujuh alarm pendek dan satu alarm panjang (Seven short and one long blush) yang disebut General Emergency Alarm. Di deck ini terdapat stateroom 3300 sampai stateroom 3433.
Promenade Deck atau Deck 4 adalah deck yang tidak memiliki stateroom. Deck merupakan deck dimana aku bekerja ketika waktu dinner karena di aft deck terdapat La Fontaine Dining Room. La Fontaine Dining Room sebenarnya memiliki dua lantai; lantai bawah disebut lower level dan lantai atas yang berada di Deck 5 adalah upper level. Di Promenade Deck juga terdapat Main Galley, Art Gallery, Pinnacle Grill, Shore Excursion, Front Office, Wajan Theater & Culinary Art Center, Photo Gallery dan Queen's Lounge.
Upper Promenade Deck menyimpan La Fontaine Dining Room
upper level, Queen's Room dan King's Room. Kemudian di deck ini juga terdapat Exploration Café dan Exploration Longue.
Hudson Room, Rembrandt Lounge, Amstel Café, Casino, Sport Bar, Shops, Ocean Bar dan Queen's Lounge lantai dua juga masih terletak di deck ini.
Verandah Deck hanya berisikan Stateroom 6100 sampai Stateroom 6228. Deck ini disebut Veradah Deck karena hampir semua stateroom memiliki verandah masing-masing yang memungkinkan setiap penghuninya menikmati pemandangan secara private.
Navigation Deck juga beriskan stateroom saja. Stateroom
7001 sampai Stateroom 7058. Namun ukuran setiap stateroom di deck ini sangat besar karena di deck ini biasanya tinggal tamu-tamu yang VIP sampai VVIP. Di deck ini terdapat Neptune Lounge yang bertujuan untuk mengakomodasi dan sebagai tempat makan bagi tamu-tamu VIP dan VVIP tersebut. Nah disebut Navigation Deck karena di deck ini terdapat Bridge yang dimana Captain dan anak buahnya mengendalikan kapal.
Lido Deck adalah deck favorite bagi tamu. Karena di sini teradapat Lido Restaurant yang menyedikan makanan secara buffet service. Selain itu di deck ini terdapat Sea View Pool Bar, Lido Bar, Lido Pool, Hot Tubs, Terrace Grill, Green House Spa & Salon, Gym dan tentunya Canalleto yang Italian Restaurant yang menyediakan makanan Italia yang buka di waktu dinner.
Di Sport Deck terdapat Club HAL, The Loft dan Crow's Nest tempat yang memungkinkan orang-orang menikamati pemandangan tampa kedinginan.
Sky Deck adalah deck yang paling atas. Di Deck ini hanya terdapat The Oasis dan sisanya kosong. Do you know what I mean? Hemm… let's me show the maps.
ms Amsterdam
| Characteristics |
| Decks | 10 |
| Guest Elevator | 12 |
| Public Rooms | 16 |
| Guests | 1,380 |
| Crew | 647 |
| Gross Tonnage | 61,000 |
| Length | 780 ft |
| width | 105,8 ft |
| Draft | 26 ft |
| Built | 2000 |
| Engine | Diesel Electric |
| Automatic Stabilizers | |
Jelas gak?
Walah kegedean gambarnya?
Oke deh. Buat kamu yang mendengarkan. Kita sambung lagi dengan cerita lain. Sekarang aku mau tidur. Sudah jam 2 pagi.
Good night.
Ketchikan to Victoria, July 28, 2011
While listening Alun-Alun Nganjuk from my Acer ASPIRE 5250-BZ873
Asa ada dalam diriku untuk bertahan tinggal di dalam sebongkah besi tua yang bergerak. Besi dengan kekuatan diesel electric yang mampu menyebrangi samudra dengan gagah. Bercat hitam putih dan bertuliskan Amsterdam Rotterdam di aft kapal. Di dalam besi itu lah aku dengan kesabaranku harus bertahan mencari dan mengumpulkan dollar-dollar yang akan aku gunakan untuk keperluan masa depanku. Seringkali aku berfikir untuk menyerah. Tapi aku tak mampu melihat keluargaku kecewa dengan keputusan bodoh yang aku ambil bila aku memutuskan sign off dari sini.
Sungguh bila aku, secara emosiku menalar segala keinginan. Maka berhenti adalah jalan yang akan aku pilih. Banyak alasan yang membelakangi keinginanku itu. Tekanan kerja serta ketidak adilan adalah dasar dari pemikiran itu. Kapal adalah tempat dimana orang-orang aneh memutuskan sesuatu tanpa memandang perasaan seseorang. Fair adalah hal yang tidak ada disini. Tidak ada kata "adil" yang berlaku di sini. Semuanya mementingkan kepentingan diri sendiri atau golongan.
Apa ada seseorang disana yang sedang mendengarkan ceritaku?
Saat ini aku sedang menikmati suaranya Andrea Bocelli. Sudah beberapa hari ini Andrea Bocelli menemaniku sebelum tidur. Suaranya yang luar bisa mampu menenangkan jiwaku yang sedang tidak menentu. Disini aku telah membuat hidupku menjadi rumit. Hal-hal yang sepertinya tidak penting dipikirkan tetap saja aku pikirkan. Konflik dengan partner kerja atau atasan menjadi beban yang kadang-kadang aku ingin sekali melampiaskan nya dengan jotos-jotosan dengan mereka. Atau lebih parah lagi ingin sekali rasanya aku lempar mereka dengan coffee pot yang terbuat dari silverware.
Tetapi aku masih bisa menahan emosiku. Mereka belum terlalu parah dalam mengusikku. Liat saja nanti, bila mereka benar-benar sudah membuatku tidak nyaman, maka aku akan bertindak dengan tegas. Pertama aku akan mengajaknya bicara, tetapi bila tidak mendapatkan solusi maka akan aku tantang mereka yang mengusikku untuk berkelahi. Biar aku dipulangkan sekalian oleh perusahaan ini. Biarkan saja! Aku sudah tidak akan peduli lagi saat itu.
Aku tidak peduli siapa mereka dan apa jabatan mereka. Mau itu Hotel Manager sekalipun bila dia memang membuatku dipojokkan, maka aku tidak akan tinggal diam. Namun Hotel Manager tidak pernah mengusikku sampai saat ini. Argh… Hotel Manager adalah seorang bule dan beberapa pemegang jabatan lain adalah orang Melayu (Indonesian).
Apa yang membedakan orang western sama orang melayu? Bule biasanya lebih open minded daripada orang melayu. Mereka biasanya lebih terbuka dan menyikapi sesuatu lebih professional. Sedangkan orang melayu biasanya menyikapi masalah dengan perasaan.
Contoh:
Atasanku, Lido Restaurant Manager adalah seorang bule yang berasal dari Portugal. Kadang-kadang dia memang menyebalkan sekali. Namun walaupun begitu aku sempat beberapa kali berbicara tegas kepadanya dan sikapnya sangat acceptable. Waktu itu seorang temanku dia diberi kesempatan buat training di dining room, padahal dia datang ke kapal ini berselang empat hari setelah aku datang. Tetapi kenapa dia duluan yang diberi kesempatan buat training di dining room. Akhrinya aku menanyakan apa dia yang memberi kesempatan itu ke temanku. Dia bilang klo bukan dia yang memberi kesempatan itu. Kesempatan itu datang dari dining room manager langsung. Dia tidak tahu sama sekali soal itu. Memang seharusnya dining room manager harus meminta dia untuk memberi rekomendasi siapa aja yang laiak untuk training ke dining room. Namun saat itu keputusan hanya diabuat sepihak oleh dining room manager. Akhirnya klo misalnya aku belum jelas silahkan saja aku nanya sendiri ke dining room manager.
Nah masalahnya dining room manager itu adalah seorang melayu. Aku takut bila bicara kepadanya dia akan tersinggung. Bukannya begitu kan biasanya? Aku takut ketika aku menanyakan hal itu ke dining room manager dia malah mikir yang macam-macam. "Wah udah mulai nantang ini anak. Gak bakalan dikasih buat training atau gak bakalan di promot." Nah klo gitu kan aku bisa cilaka.
Makanya aku tidak berani bicara ke dining room manager soalnya aku mencari aman. Tapi nanti klo jabatan dining room manager sudah dipegang oleh bule. Aku pasti akan bicara lebih lantang.
Kenapa orang melayu tidak pernah seterbuka bule?
Menulis sambil ngantuk soalnya hari ini sangat rame.
Masih dari cabin. Seattle (@sea) sebelum lusa tiba di Sitka.
1.22 a.m. July 23, 2011
Masih dari Cabin 061 aku menulis sambil mendengarkan SO7 menyanyikan "Hari Bersamanya" dari laptop Acer made in Cina ini. Sambil kadang-kadang berhenti mengetik keyboard karena salah satu tangan harus menggaruk paha yang gatal karena tidak cocok dengan air kapal atau karena linen kasur sudah sebulan lebih belum diganti. Hehehe….
Untuk kamu yang sedang mendengarkan.
Aku sangat ngantuk sekali malam ini. Walau tadi siang aku mendapatkan free-lunch, semacam liburan dari kerja makan siang selama dua setengah jam. Karena tadi siang aku tidak bekerja maka aku bersama teman-temanku pergi ke down town Anchorage untuk melihat barang-barang elektronik di Office Depot. Dan kemudian membeli Samsung branded dengan operator seluar AT&T yang dengan itu aku bisa menelpon ke Indonesia.
Samsung itu terbilang murah. Harganya hanya $9.99 yang bila dirupiahkan harganya hanya Rp.85.000,00. Terbilang sangat murah kan? AT&T adalah operator sellular yang "katanya" banyak promosinya. Operator ini terbilang berbeda dari operator-operator selular yang ada di Indonesia. Dengan menggunakan jasa operator ini maka kita akan dikenakan charge sebanyak $2 sehari bila kita menggunakannya. Tetapi bila tidak menggunakan maka kita tidak dikenakan charge yang $2 itu. Pokoknya bila menggunakan, pulsa akan dipotong $2 bila tidak menggunakan tidak akan dipotong. Mengerti tidak? Waduh. Aku memang bukan seorang yang pandai menerangkan sesuatu lewat tulisan.
Oke. Untuk kamu yang masih mau mendengarkan.
Sebelum dinner dimulai, sebagai assistant steward aku harus mempersiapkan beberapa barang agar ketika operasional dimulai kita tidak tercecer dengan harus mencari barang-barang. Aku memang baru saja turun ke dining room. Sebulan yang lalu aku masih bekerja di Lido Restaurant ketika dinner time. Jabatanku juga masih sebagai Assistant Steward Lido dan masih menunggu giliran agar aku bisa di promot menjadi Assistant Steward. Beberapa temanku sudah dipromot menjadi assistant steward. Tapi biar nanti aku jelaskan di halaman yang lain bagaimana seseorang bisa dipromot atau tidak. Halaman ini tidak muat untuk menjelaskan hal-hal gaib dan tidak masuk akal didalam proses promotion.
Setelah melakukan persiapan aku langsung menelpon ke Indonesia, ke Ika, pacarku. Aku menggunakan Samsung yang baru aku beli tadi dan dengan kartu international ku yang aku beli di San Diego beberapa bulan lalu dan belum aku gunakan. Kulakukan intruksi yang ada di kartu dan ternyata tersambung. Tapi beberapa kali aku coba menghubungi Ika, dia tidak mengangkatnya. Aku menelpon jam 4 sore yang artinya di Indonesia sudah jam 7 pagi. Lalu aku mengirim pesan ke Ika.
"Sayang, ini kk. Sayang blum bangun ya? Kk mau nanya aja, ad jadi gak ke rumah? Eh ini no kk ya sayang."
Hari ini di Indonesia adalah hari ulang tahun mamah ku. Aku menyuruh Ika membuat kejutan buat mamah. Aku menyuruhnya membuat kue ulang tahun dan membuat surprise dengan datang ke rumahku.
Tetapi waktu terlalu sempit untuk menunggu jawaban dari Ika. Aku langsung ke cabin dan mandi. Kemudian aku kembali ke dining room dan mulai mengisi water pitcher, creamer, beberapa gelas ice tea, beberapa slices
lemon dan butter. Sebelum dining
room buka jam 5.15 p.m. kita secara regular melakukan short briefing yang dikomandoi oleh Salon. Pembahasan briefing biasanya tentang menu malam ini, pengumuman dari Maetre de, lalu menyuruh menjual bottle water atau San Pellegrino.
Setelah briefing selesai para assistant steward akan mengantri sambil mengambil bread basket di Main
Galley untuk mendapatkan roti-roti soft roll yang biasanya kita sajikan ketika pertama kali tamu duduk. Sedangan para steward mengambil botol-botol minuman yang harus kita jual dari bar dan menyimpannya di commode dan kemudian ke dining room entrance untuk escort guest.
Satu persatu tamu-tamuku datang. Tidak ada yang meng-escort mereka, karena mereka memang tiap malam datang ke mejaku. Dengan cepat aku berlari ke meja 128, 129 dan 311 sambil menyapa mereka dan menarik kursi dan mendudukan mereka satu persatu. Kusimpan napkin diatas paha-paha mereka dan kuberikan menu malam ini.
Kutuang air ke gelas-gelas kosong yang berada di depan mereka. Lalu setelah itu aku sajikan butter bersama bread yang sudah aku persiapkan dari tadi. Kacungku (steward) langsung taking order dan aku menyajika ice tea ke Susan dan anaknya yang duduk di meja 128 dan Richard yang duduk di meja 129. Sedangkan suami Susan aku berikan dua gelas susu.
Orderan sudah di ambil oleh kacungku, lalu aku berlari ke kitchen mengambil appetizers, soup dan main course secara bergiliran. Dan kacungku yang menyajikannya sambil sesekali aku membantu nge-clear up piring-piring yang kotor dari meja. Dan begitulah seterusnya sampai tamu-tamuku yang second seating datang dan kulakukan proses yang sama seperti yang pertama tadi aku lakukan.
Setelah dinner time selesai dan tamu di dining room tidak ada. Kacung-kacung beserta asistennya berkumpul di aft restoran sambil memakan makanan hasil colongan. Sedangkan aku membuka handphone dan mendapatkan pesan dari Ika.
"Iya jdi ini kagok lagi di jalan."
Aku sebenarnya tadi sore sempat menelpon adik perempuanku dan menanyakan apa rencana membuat surprise buat mamah itu jadi atau tidak. Dan dia mengatakan jadi. Dia akan menunggu Ika di gerbang komplek dan kemudian akan sama-sama ke rumah.
Jam sudah menunjukan 10.30 p.m. aku mencoba menekan satu persatu tombol-tombol di handphone baruku dan memasukan kode yang ada di kartu international. Ku masukan nomor mamahku dan beliau mengangkatnya. Terdengar suaranya dari sebrang.
"Assalamu'alaikum." Jawab mamaku.
"Wa'aikum salam. Mamah. Selamat ulang tahun ya."
"Eh kaka. Makasih."
"Semoga mamah panjang umur dan sehat terus. Gimana lilin nya udah ditiup belum?"
"Eh, hihihih ….. udah atuh. Iya Ika sampai repot-repot dateng ke rumah. Mamah sampai sedih tadi. jadi terharu."
Aku tersenyum mendengar cerita yang terjadi di sana. Aku merindukan mereka semua. Ibuku, adik-adikku dan tentunya kekasihku, Ika. Setelah berbicara puas dengan mamah dan Ika. Aku menelpon bapak, calon mertuaku (Insyaallah). Aku berterimakasih kepada beliau karena sudah mengijinkan Ika datang ke rumah.
Ah malam tadi aku sangat senang sekali mendengar dan merasakan senyuman-senyuman mereka. Walau tidak ada di sana, tetapi jiwaku untuk sesaat menghampiri mereka.
Alhamdulillah. Terimakasih Ya Allah untuk segala kebaikan hari ini.
Semoga mamah panjang umur, sehat selalu dan terus senang dan tidak pernah lupa mendo'akan aku disini. Amin.
I love you, mamah,
____________________________________
July 17, 2011 @ sea to Kodiak, Alaska
Masih dari Cabin 061 sambil mendengarkan Michael Buble – Home.
I miss you. You know.
Janganlah kamu tahu siapa aku.
Itu tidaklah penting sama sekali. Yang perlu kamu tahu adalah aku seorang pelaut yang sangat merindukan kekasihnya. Seorang pelaut yang bekerja di perusahaan pelayaran asing yang sedang berusaha mencari celah agar bisa dipromosi menjadi assistant steward di Dining Room. Seorang pelaut yang baru bergabung dengan perusahaan Amerika yang memiliki kapal berbenderakan merah, putih dan biru. Kapal yang terdaftar di kerajaan Belanda dan mengangkut orang untuk bersenang-senang.
Baiklah untuk kamu yang sedang mendengarkan. Sebelum aku menceritakan bagaimana aku ada di perairan Alaska saat ini dan terombang ambing oleh gelombang ombak yang cukup besar, ada baiknya kita mulai dimana aku mencoba mendaftarkan diri menjadi pelaut di salah satu agen kapal yang sangat besar di Jalan Sudirman Jakarta. Waktu itu aku menintipkan surat lamaranku ke abangku yang sudah menjadi pelaut terlebih dahulu dan kebetulan dia waktu itu sedang ada urusan di kantor agen. Maka dengan rekomendasi dari abangku surat lamaranku terlampirkan. Berselang sehari aku sudah dapat telpon dari agen bahwa aku harus ke Jakarta untuk melakukan interview.
Singkat cerita interviewku lolos dan aku harus melakukan interview kedua di Cikarang, di salah satu sekolah yang didirikan oleh perusahan Amerika itu agar para pekerja Indonesia yang akan bekerja sebagai pelaut di kapal-kapal perusahaan itu siap secara skill dan mental. Dua hari kemudian aku datang ke Cikarang mencoba keberuntungan selanjutnya. Di sekolah aku mendapatkan sekali interview, sekali test skill dan sekali Marlin test.
Entah mengapa aku gagal diinterview dan harus mengulang lagi tiga bulan mendatang. Dan aku datang tiga bulan kemudian dan dinyatakan aku keterima sebagai crew di kapal tersebut.
Untuk kamu yang sedang mendengarkan.
Setelah lulus dari interview aku harus melakukan medical check up di Puri Medika, Tanjung Priuk dan kemudian aku harus menunggu pendidikan di Cikarang selama 8 minggu. Prosesnya menghabiskan waktu sekitar 8 bulan dan setelah pendidikan aku harus menunggu untuk membuat Visa Amerika selama 5 bulan. Aku harus menunggu setahun lebih hanya untuk bekerja di perusahaan ini dan hanya untuk mengumpulkan dollar-dollar Amerika yang semakin lama semakin turun harganya.
Terkesan ribet sekali dan memang iya RIBET.
Ah aku terlalu jauh flash back.
Oke hari ini adalah hari Kamis tanggal 14 Juli 2011. Di salah satu kapal di cabin 061 aku menulis sambil menahan rasa bau badan dari teman se-cabinku. Ufhh… Bau banget ini. Aku pura-pura tidak merasakannya karena aku tidak mau membuatnya merasa buruk. Aku mementingkan perasaannya walau aku tersiksa. Aku memang teman yang baik bukan?
Sudah hampir dua bulan aku sekamar dengannya. Tapi bau badannya semakin lama semakin menjadi. Aku tidak berani berbicara kepadanya untuk masalah ini. Sering kali bila aku sehabis kerja masuk cabin, maka pintu langsung aku buka lebar-lebar agar udara segar masuk kedalam cabin dan udara bau tubuh keluar. Bila udara di dalam cabin masih bau, maka aku akan membuat pintu seakan-akan kipas besar dan mulai mengipas-ngipas cabin. Mengerti kan apa maksudku? Ah… aku pun bingung bagaimana menjelaskannya.
Selain bau badannya yang menyiksa. Dia pun adalah seorang perokok berat. Rokoknya adalah Marlboro merah dan kadang-kadang Marlboro putih buatan Amerika. Kadang-kdang otaknya jarang dipakai. Sensitiifitas pengertiaanya kepadaku sebagai sesama penghuni cabin 061 tidak dihiraukan. Dia merokok sesuka hati. Aku semakin tersiksa karena aku bukanlah seorang perokok. I used to smoke tapi untuk saat ini rokok adalah salah satu siksaanku di cabin.
Puntung rokok bertebaran di dalam kamar mandi membuat penghuni cabin tetangga juga complaint. Argh… belum sampai disitu. Si Benga juga kadang-adang menggantungkan handuk di atas kasur membuat kasurku menjadi bau. Dan yang lebih parah si Benga juga menggantungkan celana dalam yang sudah dia pakai di gantungan pintu. Cih… si Benga memang manusia paling jorok yang pernah aku kenal.
Ok. Aku saat ini sedang mendengarkan Mike – Semua Untuk Cinta. Lagu slow yang akan mengantarkanku tidur sebentar lagi. Percaya atau tidak, alarm si Benga akan nyala satu jam setengah sebelum dia berangkat kerja, dan alarm yang keluar dari telpon genggang Nokia butut itu suaranya sangat nyaring. Aku sering terbangun gara-gara alarm si Benga nyala, tapi pas aku lihat si Benga masih saja tidur pulas. Na'udzubillah. Padahal itu Nokia tepat ada di samping telinga si Benga. Siang nya kadang-kadang si Benga bakalan nanya. Pertanyaan nya gini; "Tadi pagi alarm gua nyala gak ya sob?". Whattt???? Itu alarm nyala puluhan kali sampai-sampai aku ingin ngebantingnya. Hemhhh…. (sambil geleng-geleng kepala)
Sempet juga beberapa kali pas aku lagi tidur ada telpon berdering. Aku angkat itu telpon dan ternyata Lido Manager yang nelpon. "Where is si Benga?" Oh Tuhan si Benga terlambat datang kerja sampe-sampe harus ditelpon sama Manager Portugal botak yang nyebelin sama kaya si Benga. Tapi nanti saja aku ceritakan tingkah laku manager botak itu.
Untuk kamu yang sedang mendengarkan.
Aku sepertinya harus istirahat. Punggungku sudah harus aku luruskan. Tadi di Dining Room aku kelelahan melayani tamu-tamu kampungan yang duduk di table 311.
__________________________________________________________________
Dari cabin 061 di salah satu kapal perusahaan Amerika.
At sea sebelum Anchorage.
0.27 hours on Friday 15th, 2011