Monday, July 25, 2011

Kapal … oh …. Kapal …



 

Asa ada dalam diriku untuk bertahan tinggal di dalam sebongkah besi tua yang bergerak. Besi dengan kekuatan diesel electric yang mampu menyebrangi samudra dengan gagah. Bercat hitam putih dan bertuliskan Amsterdam Rotterdam di aft kapal. Di dalam besi itu lah aku dengan kesabaranku harus bertahan mencari dan mengumpulkan dollar-dollar yang akan aku gunakan untuk keperluan masa depanku. Seringkali aku berfikir untuk menyerah. Tapi aku tak mampu melihat keluargaku kecewa dengan keputusan bodoh yang aku ambil bila aku memutuskan sign off dari sini.

Sungguh bila aku, secara emosiku menalar segala keinginan. Maka berhenti adalah jalan yang akan aku pilih. Banyak alasan yang membelakangi keinginanku itu. Tekanan kerja serta ketidak adilan adalah dasar dari pemikiran itu. Kapal adalah tempat dimana orang-orang aneh memutuskan sesuatu tanpa memandang perasaan seseorang. Fair adalah hal yang tidak ada disini. Tidak ada kata "adil" yang berlaku di sini. Semuanya mementingkan kepentingan diri sendiri atau golongan.

Apa ada seseorang disana yang sedang mendengarkan ceritaku?

Saat ini aku sedang menikmati suaranya Andrea Bocelli. Sudah beberapa hari ini Andrea Bocelli menemaniku sebelum tidur. Suaranya yang luar bisa mampu menenangkan jiwaku yang sedang tidak menentu. Disini aku telah membuat hidupku menjadi rumit. Hal-hal yang sepertinya tidak penting dipikirkan tetap saja aku pikirkan. Konflik dengan partner kerja atau atasan menjadi beban yang kadang-kadang aku ingin sekali melampiaskan nya dengan jotos-jotosan dengan mereka. Atau lebih parah lagi ingin sekali rasanya aku lempar mereka dengan coffee pot yang terbuat dari silverware.

Tetapi aku masih bisa menahan emosiku. Mereka belum terlalu parah dalam mengusikku. Liat saja nanti, bila mereka benar-benar sudah membuatku tidak nyaman, maka aku akan bertindak dengan tegas. Pertama aku akan mengajaknya bicara, tetapi bila tidak mendapatkan solusi maka akan aku tantang mereka yang mengusikku untuk berkelahi. Biar aku dipulangkan sekalian oleh perusahaan ini. Biarkan saja! Aku sudah tidak akan peduli lagi saat itu.

Aku tidak peduli siapa mereka dan apa jabatan mereka. Mau itu Hotel Manager sekalipun bila dia memang membuatku dipojokkan, maka aku tidak akan tinggal diam. Namun Hotel Manager tidak pernah mengusikku sampai saat ini. Argh… Hotel Manager adalah seorang bule dan beberapa pemegang jabatan lain adalah orang Melayu (Indonesian).

Apa yang membedakan orang western sama orang melayu? Bule biasanya lebih open minded daripada orang melayu. Mereka biasanya lebih terbuka dan menyikapi sesuatu lebih professional. Sedangkan orang melayu biasanya menyikapi masalah dengan perasaan.

Contoh:

Atasanku, Lido Restaurant Manager adalah seorang bule yang berasal dari Portugal. Kadang-kadang dia memang menyebalkan sekali. Namun walaupun begitu aku sempat beberapa kali berbicara tegas kepadanya dan sikapnya sangat acceptable. Waktu itu seorang temanku dia diberi kesempatan buat training di dining room, padahal dia datang ke kapal ini berselang empat hari setelah aku datang. Tetapi kenapa dia duluan yang diberi kesempatan buat training di dining room. Akhrinya aku menanyakan apa dia yang memberi kesempatan itu ke temanku. Dia bilang klo bukan dia yang memberi kesempatan itu. Kesempatan itu datang dari dining room manager langsung. Dia tidak tahu sama sekali soal itu. Memang seharusnya dining room manager harus meminta dia untuk memberi rekomendasi siapa aja yang laiak untuk training ke dining room. Namun saat itu keputusan hanya diabuat sepihak oleh dining room manager. Akhirnya klo misalnya aku belum jelas silahkan saja aku nanya sendiri ke dining room manager.

Nah masalahnya dining room manager itu adalah seorang melayu. Aku takut bila bicara kepadanya dia akan tersinggung. Bukannya begitu kan biasanya? Aku takut ketika aku menanyakan hal itu ke dining room manager dia malah mikir yang macam-macam. "Wah udah mulai nantang ini anak. Gak bakalan dikasih buat training atau gak bakalan di promot." Nah klo gitu kan aku bisa cilaka.

Makanya aku tidak berani bicara ke dining room manager soalnya aku mencari aman. Tapi nanti klo jabatan dining room manager sudah dipegang oleh bule. Aku pasti akan bicara lebih lantang.

Kenapa orang melayu tidak pernah seterbuka bule?


 

Menulis sambil ngantuk soalnya hari ini sangat rame.

Masih dari cabin. Seattle (@sea) sebelum lusa tiba di Sitka.

1.22 a.m. July 23, 2011

No comments:

Post a Comment